Bentuk
ujian kesabaran yang sering ku lakukan ialah MENUNGGU. Menunggu
kedatangannya, kehadirannya, atau bahkan sekedar menunggu kabar tentang
dirinya. Ku coba selalu sabar menunggu, untuk sebuah kepastian. Ku
menunggu hal yang pasti tak jadi masalah. Tapi menantikan ketidakpastian
merupakan masalah besar bagi ku. Berjam-jam ku menantikan dirinya
tetapi ia belum datang juga. Ku hanya mendapat harapan semu tak berujung
tak berakhir. Akankah ia datang menghampiri ku, menemaniku dalam
hari-hari sepi ku. Terkadang ku berfikir apakah Tuhan tak adil terhadap
hidup ku ini. Ribuan pil pahit kekecewaan selalu kuteguk tanpa ada
penawarnya.
Selalu
sendiri...renang sore pun sendiri lagi. Di keramaian orang ku merasa
sepi. Tak ada teman penghibur hati. Apakah ku harus lebih berkaca diri.
Penantian ku hanyalah sebuah mimpi. Kekasih pun hanya sebentar lalu
pergi. Sungguh senyap hari-hari yang ku lalui. Sesenyap kesunyian yang
mengundang berjuta arti. Mereka yang kini telah jauh pergi akankah
berganti dia yang menghampiri. Akankah ku bisa bersama mereka atau kah
dia tuk menyambut mentari pagi.
Kesendirian tak selamanya baik untuk diri ini. Ku perlu penghibur hati di kala penat menghujam diri. Kepenatan dalam keseharian, kejenuhan dalam menajalani skenario kehidupan. Kata mereka yang punya pasangan: "Mending gak punya pasangan, kalau mau ke sini didampingi, ke situ diikuti, semua privasi tak akan ada lagi" "Waduhh...membuat ku kembali mengulang pemikiran ini. Apakah ku harus berdiam diri seperti ini. Ataukah kan kucari pendamping hidup ini agar pecah semua kesunyian yang selalu ku rasakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar