Jumat, 10 Januari 2014

Pemuda islam harapan bangsa, menghargai budaya bangsa



“Tahukah anda,  ibu kota provinsi Kalimantan Timur??? Ya ,,,,tentu Samarinda, jawabannya….”
                Seluruh siswa yang berada di kota Samarinda, seharusnya mengetahui asal usul kota yang mereka tempati sekarang ini. Namun pada kenyataannya, tak banyak yang mengetahui dan memahami asal usul kota Samarinda. “Tak kenal maka tak sayang”, pepatah itu tepat menggambarkan keadaan dan perilaku siswa saat ini, yang tak kenal asal usul, sejarah berdirinya kota mereka. Sejarah berdirinya kota Samarinda merupakan bagian terkecil dari sejarah bangsa ini. Segala hal berawal dari hal terkecil, oleh karena itu dapat kita katakan dengan mengenal, mengetahui dan memahami sejarah kota Samarinda, dapat disebut siswa yang cinta dan peduli akan sejarah bangsa.
SMK TI Labbaika mengapresiasi sejarah bangsa melalui kegiatan pengenalan sejarah kota Samarinda dan ziarah ke Makam La Mohang Daeng Mangkona (Pendiri Kota Samarinda). Kegiatan yang telah dilaksanakan pada Selasa, 22 Oktober 2013, sangat bermanfaat bagi siswa SMK TI Labbaika khususnya siswa kelas X dan XI yang menjadi sasaran kegiatan.  
"Nah,supaya pembaca lebih mengerti lagi tentang seluk beluk kota Samarinda, beserta peninggalan bersejarah, mari kita simak paparan yang di samapaikan Suci Ashliani (Siswa Kelas X SMK TI Labbaika)":


Sejarah Samarinda
                Pada tahun 1965, kerajaan Gowa pecah karena adanya penjajahan Belanda yang menyerang Makassar dan daerah laut. Akhirnya kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian yang dikenal dengan perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November  1667. Kemudian, sebagian orang-orang bugis dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaya tersebut mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan melawan Belanda. Ada yang hijrah ke pulau-pulau diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona (bergelar  Pua Apo yang pertama). Kemudian ia meminta izin ke Sultan Kutai, kedatangan ini disambut baik oleh Sultan Kutai.
                Atas kesepakatan dan perjanjian oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung “tidak tahu nama kampungnya”  suatu daerah rendah yang baik untuk usaha pertanian, perikanan, dan perdagangan. Semua rombongan tersebut memilih Daerah sekitar Muara Karang Mumus tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan karena daerah berarus putar (berulak). Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung.
                Sekitar tahun 1668, Sultan Kerajaan Kutai memerintahkan Pua Ado bersama pengikutnya membuka perkampungan di tanah rendah. Sultan Kutai memberi nama perkampungan itu dengan nama “Sama Rendah” yang berarti agar semua penduduk berderajat sama. Tidak ada perbedaan antara suku Bugis, Banjar, Kutai, dan suku lainnya. Diperkirakan dari istilah inilah dinamakan Samarinda atau lama-kelamaan ejaannya menjadi Samarinda. Hari jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668.

Mesjid Shiratal Mustaqiem
                Mesjid Shiratal Mustaqiem adalah mesjid tertua di Kota Samarinda, tepatnya dikelurahan Mesjid. Mesjid yang dibangun pada tahun 1881 ini pernah menjadi pemenang ke-2 dalam Festval Mesjid-mesjid bersejarah  di Indonesia pada tahun 2003. Mesjid ini didirikan oleh Pangeran Bendahara. Ada yang menarik dari kisah dibalik usaha pendirian 4 tiang utama dan itu sulit untuk dilakukan “ujar Pak Amirullah yang memberikan materi kemarin”. Tiba-tiba mereka didatangi seorang perempuan yang tidak diketahui namanya tersebut, ia langsung menawarkan bantuan setelah di setujui tawarannya ia meminta syarat supaya mereka kembali pada saat Sholat subuh.hingga akhirnya mereka dikejutkan dengan posisi 4 tiang ulin yang sudah terpasang tegak lurus. Diketahui 4 tiang ulin tersebut diambil dari 4 kampung, diantaranya kampung karang Mumus, Kutai lama, Loa Haur, dan Dondang.
                Masjid Shiratal Mustaqiem memiliki luas banguna 625m2. Meski beberapa kali mengalami perombakkan ulang. Namun, bangunannya tidak mengalami perubahan. Mesjid ini pernah di rehabilitasi oleh Walikota Samarinda Achmad Amins. Mesjjid ini termasuk benda-benda bersejarah yang dilidungi.
                Mesjid ini juga memiliki tiang menara, umurnya selisih seratus tahun setelah bangunan mesjid dibangun. Dibangun oleh arsitek berkebangsaan Belanda yang bernama Henry. Menara itu berdiri tepat dibelakang Mesjid.

                                                                                           ® Karya Suci Ashilliani Kursani X A



Program Kerja Bidang Studi Sejarah
SMK TI Labbaika Samarinda

Nama/Tema Kegiatan:
“Ziarah ke Makam Lamahang Daeng Mangkona,
Wujud Pengenalan Sejarah Kota Samarinda pada Siswa SMK TI Labbaika 2013”

Ketua Pelaksana :
Lisa Andriani, S.Pd
Anggota (Guru Pendamping):
1. Andri, S.Pd
2. Drs. Ismail
3.Nazibulah Rachman, A.Md
4. Muqminah, S.Pd
Peserta/Sasaran Kegiatan: Siswa Kelas X dan XI SMK TI Labbaika Samarinda

Susunan Acara:
1.   Sholat Dhuha berjama’ah
2.   Penyampaian Materi Sejarah Kota Samarinda
3.   Ziarah ke  Makam Lamahang Daeng Mangkona (Pendiri Kota Samarinda)
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar