Jujur atau Dusta? Dua hal yang sering kita lakukan. Banyak hal mengapa
kita melakukannya. Katanya sih...kalau kita banyak berdusta atau
berbohong maka banyak pula dosanya, eit...tunggu dulu sebelum menghakimi
sesuatu. Tidak selamanya kita harus bertindak jujur, ada kalanya kita
berdusta atau berbohong. Apalagi berdusta demi kemaslahatan orang lain
dan umum. Tapi tahu kah anda dusta yang bagaimana? Pada situasi tertentu
kita boleh berdusta. Situasi yang diperbolehkan berdusta menurut
agama Islam, yaitu: mendamaikan antar sesama manusia, mendapatkan ridho
istri, situasi peperangan, mempertahankan keimanan.
Mendamaikan antar sesama maksudnya adalah berbohong untuk mendamaikan
kedua kubu yang sedang berseteru. Sebagai contoh: si A sedang berseteru
dengan si B, kemudian datang si C yang mengetahui tentang permasalahan
tersebut, dan si C mengatakan (dengan bohong) kepada A tentang B, yang
membuat A ridha dan mau memaafkan kesalahan B, dan sebaliknya. Semua itu
C lakukan demi mendamaikan perseteruan tersebut.
Mendapatkan
ridho istri maksudnya adalah bohongnya suami untuk menampakkan rasa
cinta dan kasih kepada istrinya, memuji-muji kecantikan istri, gombal
dan lainnya yang bertujuan demi lestarinya kerukunan dan keharmonisan
dalam rumah tangga. Sehingga sang istripun merasa senang dan tersipu
malu dan tenang saat bersama dengan suami. Akhirnya terjalin keluarga
yang harmonis dan penuh canda tawa antar suami-istri.
Namun
yang harus diperhatikan disini adalah larangnya bohong yang bisa
meninggalkan kewajiban, mengambil hak istri ataupun sang suami tidak
bertanggungjawab terhadap istrinya. Maka yang seperti ini sangat
dilarang.
Situasi peperangan, contohnya adalah berbohong dalam
bersiasat atau membuat strategi perang dengan berpura-pura menunjukkan
kekuatan perang yang lebih besar dst. Namun berbohong untuk mengingkari
sebuah perjanjian perang tidak diperbolehkan.
Mempertahankan
keimanan (Qoulul Ikrah), contohnya adalah kisah yang menimpa Ammar
Yassir yang terpaksa mengaku kembali menyembah berhala saat dia disiksa
dan selepas melihat ibunya Sumayyah dan bapaknya, mati ditikam Abu Jahal
karena mempertahankan akidah. Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai
kedudukan Ammar selepas itu, menyatakan bahwa Ammar tetap terpelihara
akidahnya karena dia dipaksa berbuat begitu dan hal itu di luar
keinginan hatinya.
Nah...sobat semua sudah tau kan berdusta
yang bagaimana yang diperbolehkan menurut agama Islam. Untuk lebih
jelasnya sobat dumay bisa kunjungi web:http://www.solusiislam.com/2013/01/tidak-semua-kebohongan-itu-dosa.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar