Selasa, 17 Desember 2013

Jujur atau Dusta?

Jujur atau Dusta? Dua hal yang sering kita lakukan. Banyak hal mengapa kita melakukannya. Katanya sih...kalau kita banyak berdusta atau berbohong maka banyak pula dosanya, eit...tunggu dulu sebelum menghakimi sesuatu. Tidak selamanya kita harus bertindak jujur, ada kalanya kita berdusta atau berbohong. Apalagi berdusta demi kemaslahatan orang lain dan umum. Tapi tahu kah anda dusta yang bagaimana? Pada situasi tertentu kita boleh berdusta. Situasi yang diperbolehkan berdusta menurut agama Islam, yaitu: mendamaikan antar sesama manusia, mendapatkan ridho istri, situasi peperangan, mempertahankan keimanan.

Mendamaikan antar sesama maksudnya adalah berbohong untuk mendamaikan kedua kubu yang sedang berseteru. Sebagai contoh: si A sedang berseteru dengan si B, kemudian datang si C yang mengetahui tentang permasalahan tersebut, dan si C mengatakan (dengan bohong) kepada A tentang B, yang membuat A ridha dan mau memaafkan kesalahan B, dan sebaliknya. Semua itu C lakukan demi mendamaikan perseteruan tersebut.

Mendapatkan ridho istri maksudnya adalah bohongnya suami untuk menampakkan rasa cinta dan kasih kepada istrinya, memuji-muji kecantikan istri, gombal dan lainnya yang bertujuan demi lestarinya kerukunan dan keharmonisan dalam rumah tangga. Sehingga sang istripun merasa senang dan tersipu malu dan tenang saat bersama dengan suami. Akhirnya terjalin keluarga yang harmonis dan penuh canda tawa antar suami-istri.

Namun yang harus diperhatikan disini adalah larangnya bohong yang bisa meninggalkan kewajiban, mengambil hak istri ataupun sang suami tidak bertanggungjawab terhadap istrinya. Maka yang seperti ini sangat dilarang.

Situasi peperangan, contohnya adalah berbohong dalam bersiasat atau membuat strategi perang dengan berpura-pura menunjukkan kekuatan perang yang lebih besar dst. Namun berbohong untuk mengingkari sebuah perjanjian perang tidak diperbolehkan.

Mempertahankan keimanan (Qoulul Ikrah), contohnya adalah kisah yang menimpa Ammar Yassir yang terpaksa mengaku kembali menyembah berhala saat dia disiksa dan selepas melihat ibunya Sumayyah dan bapaknya, mati ditikam Abu Jahal karena mempertahankan akidah. Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai kedudukan Ammar selepas itu, menyatakan bahwa Ammar tetap terpelihara akidahnya karena dia dipaksa berbuat begitu dan hal itu di luar keinginan hatinya.

Nah...sobat semua sudah tau kan berdusta yang bagaimana yang diperbolehkan menurut agama Islam. Untuk lebih jelasnya sobat dumay bisa kunjungi web:http://www.solusiislam.com/2013/01/tidak-semua-kebohongan-itu-dosa.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar