Samarinda, Senin, 24 Oktober 2011. Pengalaman pertama membawa tunas bangsa. Usai mengabdikan diri, ku harap kan ada koordinasi. Ya, koordinasi mengarahkan tunas bangsa dengan sejuta impian nyata. Bukan sekedar kemenangan hasil perlawanan, atau kebanggaan berlebih suatu wujud kesombongan. Sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, sang dewi fortuna lambang keberuntungan akan kah ada?
"Hari ini siswa kita, diminta untuk mengikuti acara kirap estafet tunas kelapa."
Ku memulai bercakap dengan mereka,ya mau tidak mau, faham tidak faham, ku berusaha meyakinkan. Walaupun sebenaranya sejuta tanya masih terbesit dan terlintas dalam jaringan otak-otak yang kian kusut, ba'da pengabdianku. Hari ini begitu terasa melelahkan, kantuk tak lagi terhiraukan. Semangat, semangat, ya, sebuah kata motivasi yang selau kutanamkan dalam relung jiwa yang butuh penerangan. "Oh, pak saya tak dapat mendampingi maaf pak yah." terasa kendor urat semangat ketika satu persatu sosok yang kuharap menjadi pendamping mengundurkan pengajuan. Mau berkata apa lagi, saling memahami itu perlu, ku yakin mereka bukan sengaja. Sejuta rutinitas saling berkejar-kejaran untuk cepat mengakhiri garis finisnya masing-masing. Aku yakin, memang ada suatu kefarduan yang harus mereka tunaikan. JAM 01.00 SIANG, nampak terlihat di handphone mungilku, ku bergegas mendatangi kesibukan sampingan dari tugas utama. Insan kecil sudah menantiku, dengan ratusan pertanyaan yang mungkin kan terlontarkan, bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar