Rabu, 26 Oktober 2011

"Berbahasa dan Berpramuka Bagian 2"

"Nak, silakan buka lks yang akan dipelajari esok!"
"Ya, kak."
Ia, dengan sigap mengambil lks dari meja belajarnya. Perlahan tapi pasti ku berusaha menjelaskan dan mengarahkan. Satu, dua, tiga, nomor demi nomor terselesaikan. Aku berharap apa yang ia kerjakan selesai dangan jawaban yang memuaskan.
JAM 02.00 siang, soal hampir terselesaikan, handpone mungil berdering namun ku hanya hening, membuka dan membaca satu kolom sms dari siswa.
"Pak, cuma dari MTs aja yang belum datang bapak dimana? lekas ku membalas agar tak ada rasa khawatir. "Ya, tunggu saja nak, bapak masih mengajar privat, jadi tunggu saja nak yah.
JAM  02.30, Ku bergegas ke sekolah tuk menjemput pendamping. Pendamping yang akan menemaniku untuk membawa tunas bangsa ke sebuah event.  Semoga kewajiban yang nantinya kulaksanakan menjadi ringan. Satu per satu ku panggil, agar ku yakin sepuluh putra dan sepuluh putri hadir semua.Tapi nyatanya dari putri hanya delapan dan dari putra tujuh orang. 'Tidak mengapa lah', dalam hati kecilku berkata. Hanya sepucuk kekhawatiran dan sepotong pertanggungjawaban kepada orang tua mereka nantinya. Ku hilangkan pikiran negatif ku tuk kedua kalinya. Ku yakin mereka hanya tidak tepat waktu saja. Mobil dan Truk yang akan memberangkatkan rombongan akan pergi. Tapi tiga siswa putra dan dua siswa putri tak kunjung datang....bersambung

Selasa, 25 Oktober 2011

"Berbahasa, Berpramuka"

Samarinda, Senin, 24 Oktober 2011. Pengalaman pertama membawa tunas bangsa.  Usai mengabdikan diri, ku harap kan ada koordinasi. Ya, koordinasi mengarahkan tunas bangsa dengan sejuta impian nyata. Bukan sekedar kemenangan hasil perlawanan, atau kebanggaan berlebih suatu wujud kesombongan. Sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, sang dewi fortuna lambang keberuntungan akan kah ada?
"Hari ini siswa kita, diminta untuk mengikuti acara kirap estafet tunas kelapa."
Ku memulai bercakap dengan mereka,ya mau tidak mau, faham tidak faham, ku berusaha meyakinkan. Walaupun sebenaranya sejuta tanya masih terbesit dan terlintas dalam jaringan otak-otak yang kian kusut, ba'da pengabdianku. Hari ini begitu terasa melelahkan, kantuk tak lagi terhiraukan. Semangat, semangat, ya, sebuah kata motivasi yang selau kutanamkan dalam relung jiwa yang butuh penerangan. "Oh, pak saya tak dapat mendampingi maaf pak yah." terasa kendor urat semangat ketika satu persatu sosok yang kuharap menjadi pendamping mengundurkan pengajuan. Mau berkata apa lagi, saling memahami itu perlu, ku yakin mereka bukan sengaja. Sejuta rutinitas saling berkejar-kejaran untuk cepat mengakhiri garis finisnya masing-masing. Aku yakin, memang ada suatu kefarduan yang harus mereka tunaikan. JAM 01.00 SIANG, nampak terlihat di handphone mungilku, ku bergegas mendatangi kesibukan sampingan dari tugas utama. Insan kecil sudah menantiku, dengan ratusan pertanyaan yang mungkin kan terlontarkan, bersambung....

Jumat, 21 Oktober 2011

"Terkadang Jenuh"

Aktivitas sehari-hari yang selalu rutin kita lakukan, akan membuat kita jenuh. Kita berusaha untuk tetap semangat menjalani aktivitas tersebut, walau raga berat tuk bergerak. Jangankan raga, ruh pun enggan bertindak hingga semua indra terdiam sejenak. Jenuh, adalah suatu kata yang terlontarkan sang kuli spidol yang menguraikan tintanya di 'whiteboard', hari-harinya ia habiskan di depan kelas dengan puluhan mata memandang ke arahnya.