“Tahukah anda, ibu
kota provinsi Kalimantan Timur??? Ya ,,,,tentu Samarinda, jawabannya….”
Seluruh siswa yang berada di kota
Samarinda, seharusnya mengetahui asal usul kota yang mereka tempati sekarang
ini. Namun pada kenyataannya, tak banyak yang mengetahui dan memahami asal usul
kota Samarinda. “Tak kenal maka tak sayang”, pepatah itu tepat
menggambarkan keadaan dan perilaku siswa saat ini, yang tak kenal asal
usul, sejarah berdirinya kota mereka. Sejarah berdirinya kota Samarinda
merupakan bagian terkecil dari sejarah bangsa ini. Segala hal berawal dari hal
terkecil, oleh karena itu dapat kita katakan dengan mengenal, mengetahui dan
memahami sejarah kota Samarinda, dapat disebut siswa yang cinta dan
peduli akan sejarah bangsa.
SMK TI Labbaika mengapresiasi
sejarah bangsa melalui kegiatan pengenalan sejarah kota Samarinda dan ziarah ke
Makam La Mohang Daeng Mangkona (Pendiri Kota Samarinda). Kegiatan yang telah
dilaksanakan pada Selasa, 22 Oktober 2013, sangat bermanfaat bagi siswa SMK TI
Labbaika khususnya siswa kelas X dan XI yang menjadi sasaran kegiatan.
"Nah,supaya pembaca lebih mengerti lagi tentang seluk beluk kota Samarinda, beserta peninggalan bersejarah, mari kita simak paparan yang di samapaikan Suci Ashliani (Siswa Kelas X SMK TI Labbaika)":
Sejarah Samarinda
Pada tahun 1965, kerajaan Gowa
pecah karena adanya penjajahan Belanda yang menyerang Makassar dan daerah laut.
Akhirnya kerajaan Gowa dapat dikalahkan dan Sultan Hasanuddin terpaksa
menandatangani perjanjian yang dikenal dengan perjanjian Bongaya pada tanggal
18 November 1667. Kemudian, sebagian
orang-orang bugis dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap
isi perjanjian Bongaya tersebut mereka tetap meneruskan
perjuangan dan perlawanan melawan Belanda. Ada yang hijrah ke pulau-pulau
diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang
dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Apo yang pertama). Kemudian ia meminta
izin ke Sultan Kutai, kedatangan ini disambut baik oleh Sultan Kutai.
Atas kesepakatan dan perjanjian
oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung “tidak tahu
nama kampungnya” suatu daerah rendah
yang baik untuk usaha pertanian, perikanan, dan perdagangan. Semua rombongan
tersebut memilih Daerah sekitar Muara Karang Mumus tetapi daerah ini
menimbulkan kesulitan karena daerah berarus putar (berulak). Selain itu dengan
latar belakang gunung-gunung.
Sekitar tahun 1668, Sultan
Kerajaan Kutai memerintahkan Pua Ado bersama pengikutnya membuka perkampungan
di tanah rendah. Sultan Kutai memberi nama perkampungan itu dengan nama “Sama
Rendah” yang berarti agar semua penduduk berderajat sama. Tidak ada perbedaan
antara suku Bugis, Banjar, Kutai, dan suku lainnya. Diperkirakan dari istilah
inilah dinamakan Samarinda atau lama-kelamaan ejaannya menjadi Samarinda. Hari
jadi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668.
Mesjid
Shiratal Mustaqiem
Mesjid Shiratal Mustaqiem adalah
mesjid tertua di Kota Samarinda, tepatnya dikelurahan Mesjid. Mesjid yang
dibangun pada tahun 1881 ini pernah menjadi pemenang ke-2 dalam Festval
Mesjid-mesjid bersejarah di Indonesia
pada tahun 2003. Mesjid ini didirikan oleh Pangeran Bendahara. Ada yang menarik
dari kisah dibalik usaha pendirian 4 tiang utama dan itu sulit untuk dilakukan
“ujar Pak Amirullah yang memberikan materi kemarin”. Tiba-tiba mereka didatangi
seorang perempuan yang tidak diketahui namanya tersebut, ia langsung menawarkan
bantuan setelah di setujui tawarannya ia meminta syarat supaya mereka kembali pada
saat Sholat subuh.hingga akhirnya mereka dikejutkan dengan posisi 4 tiang ulin
yang sudah terpasang tegak lurus. Diketahui 4 tiang ulin tersebut diambil dari
4 kampung, diantaranya kampung karang Mumus, Kutai lama, Loa Haur, dan Dondang.
Masjid Shiratal Mustaqiem
memiliki luas banguna 625m2. Meski
beberapa kali mengalami perombakkan ulang. Namun, bangunannya tidak mengalami
perubahan. Mesjid ini pernah di rehabilitasi oleh Walikota Samarinda Achmad
Amins. Mesjjid ini termasuk benda-benda bersejarah yang dilidungi.
Mesjid ini juga memiliki tiang
menara, umurnya selisih seratus tahun setelah bangunan mesjid dibangun.
Dibangun oleh arsitek berkebangsaan Belanda yang bernama Henry. Menara itu
berdiri tepat dibelakang Mesjid.
® Karya Suci
Ashilliani Kursani X A
Program
Kerja Bidang Studi Sejarah
SMK
TI Labbaika Samarinda
Nama/Tema
Kegiatan:
“Ziarah
ke Makam Lamahang Daeng Mangkona,
Wujud
Pengenalan Sejarah Kota Samarinda pada Siswa SMK TI Labbaika 2013”
Ketua
Pelaksana :
Lisa
Andriani, S.Pd
Anggota
(Guru Pendamping):
1.
Andri, S.Pd
2.
Drs. Ismail
3.Nazibulah
Rachman, A.Md
4.
Muqminah, S.Pd
Peserta/Sasaran
Kegiatan: Siswa Kelas X dan XI SMK TI Labbaika Samarinda
Susunan
Acara:
1.
Sholat
Dhuha berjama’ah
2.
Penyampaian
Materi Sejarah Kota Samarinda
3.
Ziarah
ke Makam Lamahang Daeng Mangkona
(Pendiri Kota Samarinda)